Profile

Join date: Oct 26, 2022

About

Lihat Koleksi Museum Perang Singapura, Ada Meriam Berumur 155 Tahun



Jika anda mempunyai peluang untuk berekreasi ke Singapura, sebaiknya berkunjung sebuah situs museum monumental zaman peperangan yang berada pada tempat kompleks Sentosa Island yaitu Fort Siloso Museum.


Negara yang populer dengan panggilan Singa ini mendatangkan banyak tujuan rekreasi yang tidak dapat diacuhkan, dimulai dari makanan, budaya, dan akulturasi sampai museum-museum yang memberi pengetahuan mengenai zaman jaman sebelumnya.


Untuk dapat berkunjung Wisata Museum ini, beberapa wisatawan diwajibkan treking lebih dulu seakan kita dibawa untuk rasakan perjuangan beberapa tentara jaman dulu di saat periode peperangan. Pohon-pohonan yang teduh di kiri kanan dan jalan berbatu jadi penawar capek sepanjang perjalanan.


Diperjalanan ke arah Fort Siloso, beberapa pengunjung akan disongsong dengan sebuah info tentang riwayat Siloso Trail sebagai warisan riwayat perang dunia ke-2 .


"Siloso Trail ialah sisi dari jalan setapak yang bisa dilewati oleh beberapa tamu untuk mengeksploitasi kekayaan rekreasi alam Pulau Sentosa, jalan setapak ini akan bawa kamu ke sampai ke Benteng Siloso," begitu isi info itu.


Rupanya bukan hanya tinggalkan beberapa benda yang monumental untuk disaksikan dan didalami, narasi dibalik itu Fort Siloso jadi menarik saat kita telusuri lebih dalam komplek museum yang menjadi satu diantara saksi pertanda berlangsungnya perang dunia ke-2 .


Menurut sejarahnya, Sentosa Island yang disebut gerbang khusus ke arah museum perang ini ialah sebuah benteng militer Inggris sepanjang perang dunia ke-2 . Disamping itu, Siloso ini digunakan untuk jaga senjata dari tentara Jepang.


Riwayat menulis, di tahun 1942 pulau ini dipakai sebagai tempat penahanan beberapa orang Jepang yang ditahan Inggris. Pulau ini digunakan sebagai pusat resimen sah Singapura dari Royal Artileri dan diganti unit infanteri Gurkha dan Fort Siloso dan Fort Serapong sebagai peristirahatan beberapa umat gereja Katolik dan Protestan di tahun 1947.


Untuk menolong pengunjung pahami itu semua, pengurus Fort Siloso membuat beragam ornament yang memvisualisasikan periode gelap itu dimulai dari tempat beristirahat beberapa tentara pada periode itu sampai meriam-meriam yang dipakai untuk menantang lawan masih tetap kelihatan benar-benar terurus.


Salah satunya senjata yang dapat disaksikan ialah meriam yang dibikin di tahun 1867, berbentuk tempaan tabung baja yang mempunyai tiga lubang untuk proyektil yang dapat merusak beberapa musuh yang serang.


Seterusnya ada barak-barak tentara yang diisikan oleh beragam ornament yang memperlihatkan aktivitas beberapa tentara setiap hari, dimulai dari tempat istirahat sampai aktivitas mereka setiap hari pada periode itu.


Karena ada contoh itu, makin gampang untuk pengunjung untuk pahami kehidupan beberapa tentara pada periode itu, baik dari rutinitas sampai penyiapan mereka menantang beberapa beberapa musuh yang tiba.


Selainnya mendatangkan contoh dalam sisi patung-patung, pengurus memberi info ringkasan yang mereka kerjakan setiap hari dengan beragam contoh tulisan.


Dalam barak yang memuat beberapa tentara perang, ada tulisan yang menceritakan begitu menderitanya beberapa tentara yang lakukan perjalanan cukup mengambil alih beberapa waktu untuk dapat sampai di lokasi itu.


Berdasarkan catatan, perjalanan yang sudah dilakukan oleh tentara Inggris di tahun 1880 itu memerlukan waktu lebih kurang sepanjang 60 hari. Panorama itu memvisualisasikan bagaimana mereka yang paling kangen dengan rumah dan perjalanan yang lama membuat mereka banyak yang mabok laut, walau itu menjadi hal yang umum.


Sesudah melihat Daya Tarik Candi Bahal, yang dulu namanya Pulau Belakang Mati--mulai kelihatan, beberapa tentara ini tahu jika mereka akan alami kehidupan yang paling berlainan seperti pada rumah secara umum.


Situasi barak

Perjalanan yang meletihkan tentu membuat beberapa tentara-tentara Inggris ingin rasakan enaknya tempat beristirahat yang nyaman dan tenang. Itu ialah sebuah angan-angan yang kemungkinan tidak pernah terjadi saat pada periode perang.


Pada contoh ini, beberapa tentara cuma bisa tempati tempat tidur atau tempat istirahat yang paling sempit dan tidak nyaman. Kenyataannya, dalam barak yang tidak besar ini, mereka cuma dapat tidur dengan manfaatkan segi yang kosong dengan membuat hammock atau kasur menggantung.


Bahkan juga, jarak tempat tidur beberapa tentara cuma seukur tempat tidur mereka, yang berisi rak-rak dan kelambu.


Fort Siloso Museum yang satu kompleks dengan Pulau Sentosa, membuat beberapa wisatawan bisa juga nikmati tujuan yang lain. Hingga, tidaklah aneh bila tempat ini jadi tujuan tempat liburan mimpi untuk wisatawan luar negeri.


Bukan hanya Museum Perang yang dapat didatangi, pada tempat kompleks Sentosa Island, beberapa wisatawan bisa juga berkunjung beragam tujuan rekreasi yang lain seperti Universal Studios Singapore, S.E.A.Aquarium, Sentosa Boardwalk,Madame Tussauds Singapore, Singapore Cable Car, Pantai Palawan, Pantai Sentosa, Museum Sulap Mata Singapura, Fort Siloso Skywalk, Pulau Dolphin sampai nikmati panorama lewat Floating Bridge at Siloso Beach.


Supaya selekasnya dapat memilih untuk bertandang ke mana, beberapa pelancong yang akan ingin liburan ke Singapura dapat lebih dulu berkunjung situs Singapore Tourism Board (visit Singapura) untuk ketahui segalanya kegiatan dan aktivitas yang terlaksana di Singapura.

Katrina Bennett

More actions